Bukan Sekadar Diskusi: Workshop Pariwisata Medan Utara Diwarnai Keluhan dan Tuntutan Serius
![]() |
| Foresthree Coffe, Tanah Enam Ratus |
BELAWANSOLOTRANS - Workshop Kampung Wisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Medan pada pukul 08.00 WIB 18/11/2025, menjadi momentum penting bagi berbagai kelompok masyarakat di Medan Utara. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Prioritas Wali Kota Medan dalam pengembangan Ekowisata dan Kawasan Strategis Pariwisata V (KSP V) Medan Utara, sehingga kegiatan ini bukan hanya forum pertemuan, tetapi ruang untuk berdiskusi, mengevaluasi, dan memperkuat peran komunitas dalam membangun destinasi wisata yang berkelanjutan. Bertempat di Foresthree Coffee & Kitchen dan Danau Siombak, kegiatan ini diikuti oleh berbagai instansi mulai dari Pokdarwis, mahasiswa, LPM, HNSI, Karang Taruna, UMKM, serta utusan dari lembaga Forum Masyarakat Belawan Membangun (FORMABEM), hingga media online. Dari seluruh peserta, Pokdarwis dari Medan Marelan, Medan Labuhan, dan Medan Belawan tercatat sebagai kelompok yang paling aktif menyampaikan pandangan.
Acara dibuka oleh Ibu Deby Fauziah, S.Sos selaku Kepala Bidang Pariwisata Kota Medan, dilanjutkan pengarahan oleh Odi Anggi Batubara, S.STP, M.M selaku Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan, serta David Rombin Sinaga, S.E dari Komisi 3 DPRD Kota Medan. Pemateri, Koko Sujatmoko dari Universitas Sumatera Utara, dan Narasumber Utama, Ardi Tama Nusantara Putra, S.H membedah materi “Pengembangan Desa Wisata” dan “Perancangan Paket Wisata & Pengelolaan Pengalaman Wisatawan”. Kedua materi ini menekankan bahwa pengembangan kampung wisata memerlukan pemahaman potensi lokal, penataan yang terukur, serta pengalaman wisata yang mampu memberikan nilai tambah bagi pengunjung.
Sesi materi mempertegas bahwa Medan Utara merupakan wilayah prioritas KSP V, dan Danau Siombak menjadi titik utama yang berpotensi berkembang sebagai kampung wisata berkelanjutan. Potensi alam, ekosistem, hingga sejarah kawasan ini bisa menjadi kekuatan besar ketika masyarakat terlibat langsung sebagai pengelola. Karena itu, penguatan Pokdarwis, peningkatan kompetensi masyarakat, serta pemetaan potensi lokal menjadi fondasi penting sebelum pengembangan wisata berjalan lebih jauh.
Hal yang mencuri perhatian terjadi pada sesi diskusi. Selain Pokdarwis yang aktif memberikan masukan, seorang pelaku UMKM dari Sicanang Indah Belawan menyuarakan kegelisahan yang cukup tegas. Ia mengeluhkan kondisi Wisata Mangrove Sicanang yang kini seolah dibiarkan begitu saja, tanpa pengelolaan yang jelas. Ia juga menyinggung Pemerintah Kota Medan, khususnya Dinas Pariwisata dan pihak keamanan, terkait maraknya kasus begal di kawasan tersebut. “Bagaimana wisata bisa hidup kalau aksesnya saja tidak aman?” begitu kira-kira maksud dari pernyataannya. Ia menambahkan bahwa salah satu alasan mengapa Mangrove Sicanang tidak berkembang adalah pasang surut air laut yang membuat akses jalan sering tenggelam, sehingga mobilitas wisatawan dan pelaku usaha pun terganggu.
Keluhan tersebut ditanggapi narasumber dengan menekankan bahwa pengembangan wisata bukan pekerjaan pemerintah semata, melainkan kerja bersama seluruh elemen masyarakat, mulai dari komunitas, pelaku UMKM, akademisi, hingga pemerintah daerah. Kolaborasi dianggap sebagai satu-satunya cara agar persoalan kebersihan, keamanan, infrastruktur, dan kesiapan destinasi bisa diselesaikan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
![]() |
| Taman Wisata Danau Siombak, Paya Pasir, Marelan |
Memasuki sesi kedua 08.00 WIB 19/11/25. yang berlangsung di Wisata Danau Siombak, Suasana terasa lebih hidup. Acara kembali dibuka oleh Ibu Deby Fauziah, S.Sos, sebelum materi dilanjutkan oleh narasumber Dr. Nanda Ayu Setiawati yang membahas bagaimana cara menjadikan Danau Siombak sebagai destinasi yang modern, menarik, dan layak dikunjungi. Ia menunjukkan keprihatinannya terhadap banyaknya sampah kiriman di pesisir danau, yang menjadi masalah rutin bertahun-tahun. Setelah penyampaian materi, seluruh peserta diajak turun langsung untuk melakukan aksi bersih-bersih pesisir. Kegiatan ini memberikan pengalaman nyata bahwa pembangunan wisata tidak bisa lepas dari kepedulian terhadap lingkungan.
Usai mengutip sampah, peserta diajak naik boat untuk menyusuri Danau Siombak, melihat dari dekat ekosistem dan potensi wisata yang sebenarnya sangat besar bila dikelola secara profesional. Setelah itu, para peserta disambut oleh penyampaian dari pengelola Wisata Danau Siombak, Ibu Hajjah & Mustikaguna Hasibuan, yang telah bertahun-tahun membersamai masyarakat di wilayah tersebut.
Dalam pemaparannya, mereka menjelaskan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar danau yang masih jauh dari kata sejahtera. Salah satu contoh paling nyata adalah para pengrajin Lidi dari Nipah yang hanya menerima upah sekitar 700 rupiah per kilogram, sebuah angka yang jelas tidak sebanding dengan tenaga, waktu, dan proses yang mereka curahkan.
Namun di tengah keterbatasan itu, masyarakat tetap berusaha bertahan dengan mengolah nipah menjadi produk kreatif, seperti Nipah Cappuccino. Bahkan Ikan Terubuk yang harganya murah dan rasanya kurang digemari, diolah menjadi Pempek Terubuk, sebagai upaya menambah nilai ekonomi. Tidak berhenti di situ, warga juga memproduksi berbagai inovasi UMKM lain seperti Baby Crabs Crispy dan Ikan Lidah Crispy, memanfaatkan kekayaan ekosistem danau yang sebenarnya melimpah.
Selain berbagi cerita, para pengelola juga langsung mengajak peserta, terutama para ibu-ibu untuk praktik bersama mengolah daun nipah menjadi lidi dan ketupat. Kegiatan singkat namun penuh makna ini memperlihatkan bahwa potensi lokal bukan sekadar wacana, tetapi benar-benar dapat dikembangkan jika ada pendampingan dan arah yang jelas.
Harapan besar disampaikan oleh para pengelola. Mereka memohon agar pemerintah membantu menjadikan Danau Siombak sebagai kampung kreatif, sebuah kawasan wisata yang bukan hanya dikunjungi, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Setelah penyampaian tersebut, seluruh peserta disuguhkan berbagai produk lokal seperti Baby Crabs Crispy, Pempek Terubuk, dan Nipah Cappuccino, menikmati cita rasa khas danau yang jarang ditemukan di tempat lain.
Di penghujung acara, Ibu Deby memanggil perwakilan dari berbagai kelompok, mulai dari Pokdarwis, LPM, HNSI, UMKM, mahasiswa, hingga Karang Taruna untuk memberikan kesan, kritik, saran, dan harapan. Suasana penutupan terasa hangat tetapi juga penuh refleksi. Banyak yang mengapresiasi workshop dua hari ini sebagai wadah penting untuk menyampaikan aspirasi, namun tetap menegaskan perlunya tindak lanjut nyata.
Dan pada akhirnya, masyarakat berharap kegiatan ini bukan hanya seremonial saja, tetapi benar-benar menjadi langkah awal yang serius untuk menghadirkan perubahan, memperbaiki kawasan wisata, meningkatkan keamanan, memperkuat ekonomi lokal, dan menjadikan Medan Utara sebagai wajah baru ekowisata Kota Medan.
(MRS)








0 Komentar